Boo!
ENTRY ABOUT LINKS STUFFS FACEBOOK TWITTER NEWER OLDER +FOLLOW DASH

Kasih Menanti - bab 5
Bab 5

        " Err , boleh saya tahu siapa ahli keluarga mangsa ? " soal Encik Daud , salah seorang doktor yang ditugaskan merawat Muhamad Faiz dan Nabilah .

        " Kamilah ahli keluarga mangsa tersebut . " beritahu Encik Mokhtar . Puan Saniah menggenggam tangan Mak Laila erat . Mak Laila mengangguk tanda setuju .

       " Emm , sebelah puan tu kakak mangsa ke ? " soal Encik Daud lagi . Mereka terkejut . Encik Mokhtar mengepal penumbuk . ' Hadui kau ni , ada hati ke nak mengurat bini aku . ' hatinya berkata .

         " Dia ni mama kepada cik Nabilah , isteri kepada Tuan Mokhtar , Puan Saniah namanya . " beritahu Puan Saniah sambil ketawa bersama Puan Saniah .

        " Huh , kami datang nak tahu pasal anak kami semua . Tak perlu nak bergurau senda sangat di sini . Ni , kan awak bukan main risau tadi . Boleh pula ketawa . " kata Encik Mokhtar geram . Api cemburunya bermain di benak hatinya .

      " Sabar , encik . Sebenarnya Saniah ni bekas isteri saya . Tak sangka awak dah ada suami . Awak masih cantik seperti dulu , ya . Saya masih sukakan awak , Saniah . " ucap Encik Daud selamba . Saniah terperanjat besar . Hatinya berdebar . 'Adakah aku masih cintakan dia , Ya Allah ? ' hatinya berkata .

       " Hish , ini dah melampau ! Kerja kau merawat penyakit orang . Bukan merawat cinta yang pudar . Aku nak tahu pasal anak aku ! Kau ni tak reti kerja ke apa ?! " bentak Encik Daud . Dia sudah menukar kata ganti dirinya . Kelelakiannya benar - benar tercabar .

       " Abang , sabar . Jangan lah begini . Saya cintakan awak seorang In Shaa Allah bang . " pujuk Puan Saniah . Dia mengurut - urut dada suaminya . Tindakan suaminya itu benar - benar tidak dijangka .

         " Lupakanlah kisah dulu . Aku nak tahu pasal anak aku . Aku dah tiada hati pada kau . Tak payahlah kau berharap pada aku . Aku dah ada suami . Tolong . " ujar Puan Saniah lagi meskipun hatinya masih mempunyai sisa - sisa cinta yang ditabur Encik Daud .

         " Sudahlah ! Saya pun dah naik geram ni .  Beritahu pasal anak saya boleh tak ? Jangan sampai mulut awak saya sumbat dengan senduk gajah ni . Membebel pasal cinta saja . " ucap Mak Laila geram . Tangannya erat menggenggam sebatang senduk yang besar .

         Encik Daud mendengus panjang . Harapannya untuk memulihkan cinta bekas isterinya hancur . Tiada siapa tahu , hubungan mereka berdua telah melahirkan seorang anak lelaki yang kini entah ke mana .

           " Anak awak semua kehilangan darah yang banyak . Darah di hospital ni tidak banyak kerana kurangya sikap prihatin masyarakat . Jika ada yang ingin menderma , inform saya ya . " ujar Encik Daud selamba . Mereka terkesima lagi . Begitu mudah dia katakan .

        " Saya nak bagi darah pada Nabilah sekarang juga . Mari bibik . " ucap Nabilah .

     " Hai , mentang - mentang doktornya bekas suami , laju saja nampaknya . Dah lupa saya rasanya . " ujar Encik Mokhtar . Mak Laila menggeleng .

      " Mana ada ! Ini untuk anak kita . Tak habis - habis dengan cemburu buta abang tu . Sudahlah , anak saya perlukan saya . "

      Mak Laila dan Puan Saniah erjalan menuju ke bilik Encik Daud . Encik Mokhtar masih berdiri tegak di situ . Seperti hendak menyanyikan lagu Negaraku sahaja .

      " Kami nak derma darah , abang ! " ucap Puan Saniah .

      " Oh silakan . Saya cek darah dulu ya . " ucap Encik Daud . Dia melakukan proses mengambil darah dari tubuh wanita berdua itu . Setelah itu dia mengkaji jenis darahnya .

      " Darah awak berdua tidak boleh diderma pada anak masing - masing . " beritahu Encik Daud .

     " Bagaimana ini ? Tak mungkin tidak boleh ! Kami ibunya . Mana mungkin ... " ujar Mak Laila .

      " Tidak , darah awak berdua boleh ditukar . "

      " Ditukar ? " tanya mereka serentak .

      " Ya , darah Ni diberi kepada Faiz manakala darah bibik diberi kepada Nabilah . "

     " Awak nak cakap anak kami tertukar ? "

     " Saya tak kata . "

     " Baiklah . "

     Encik Mokhtar masuk tanpa mengetuk pintu . Matanya sembap . Sepertinya dia baru lepas menangis .

     " Saya minta maaf , Ni . Saya ikutkan emosi . "

     " Tak apa . Saya faham . " Puan Saniah mengukir senyuman .

     " Anak kita lain darah dari saya . Darah kami ditukar. "

     " Bagaimana ? Oh ... , "

      " Kenapa bang ? "
 
     " Tiada apa - apa . Saya teringatkan donat kat luar . "

     " Oh , abang ni kelakarlah . Kami dah buat ujian DNA . Keputusannya hari esok ."

     " Hah ? Kenapa tak beritahu saya dulu ! Ni ni kan .. ! "

    " Yelah , bang ... , "

      " Tiadalah , saya gurau saja . " Encik Mokhtar juga Mak Laila kelihatan gelisah seperti ada sesuatu di antara mereka .

    " Bang  , kita tidur je lah , ya . "

     " Ya . "

     Operasi memberi darah dilakukan . Mak Laila  , Encik Mokhtar dan Puan Saniah tertidur di ruang menunggu . Malam semakin larut .

      



Ditepek kat sini pada7:32 AM | 0 orang sesat
<$CommentPager$>
<$I18NCommentAuthorSaid$>

<$BlogCommentBody$>

<$BlogCommentDeleteIcon$>
<$CommentPager$>

<$BlogItemCreate$>